Puisi : Kau dan Kopi

Sebuah pertemuan terkadang menyisakan suatu kenangan. Hanya ada dua pilihan, disimpan atau dilupakan.

Ibarat secangkir kopi, tanpa gula.


Pahit adalah kenyataan, nikmat adalah pilihan.

Tergantung bagaimana kita merasakan.


Setiap teguknya membuat jantung ini terpacu, seperti saat aku melihatmu untuk yang pertama kalinya, semenjak kita tak bersua selama satu purnama. Kala itu, gelapnya petang menjadi saksi bahwa aku telah terjatuh kedalam tatapan indahmu, untuk yang kesekian kalinya.

Tuhan benar.

Malaikat nyata adanya.

Meskipun terlahir, tanpa sayap.

7 pagi di hari itu, aku menanti kehadiranmu yang telah kuundang via pesan singkat. Tak lama, kaupun datang. Senyummu, menyambut hangatnya mentari kala itu. Panas tak terasa, semenjak kau ada di dekat pundak sebelah kanan. Asa mulai timbul, kata pesimis mulai luntur.


Tak peduli, jika nanti tak bisa memiliki, aku akan tetap mencintai.


 

Ruteng

Penulis : VN

Comments: 0

Your email address will not be published. Required fields are marked with *