Asal-usul Nenek Moyang Pulau Komodo

Melanesiahotnews.com – Di sebelah Barat Pulau Flores terdapat Pulau Komodo yang jarang penduduknya, pulau ini bersama pulau Rinca di sebelah timurnya terletak di Selat Sape, antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Perjalanan ke Pulau Sumbawa dilakukan dengan perahu melewati pulau-pulau kecil seperti Girilawa, Lulu, Bendera dan Gilibanta, yang membutuhkan waktu satu hari pelayaran. Sementara untuk berlayar menuju Labuhan Bajo di Flores memakan waktu perjalanan setengah hari, dengan melewati pulau Messah.(Verheijen, 1987: 2)

Penduduk Pulau Komodo dikenal dengan sebutan Ata Modo dan pulaunya mereka sebut Tana Modo, dengan jumlah desa yang sedikit jumlahnya.

Menurut Zollinger, sekitar tahun 1850, penduduk yang tinggal di Pulau Komodo dahulu mengungsi ke Bima akibat adanya serangan bajak laut. (Verheijen, 1987: 4-5).

Berdasarkan laporan Residen Belanda di Kupang, Gronovius yang berlayar ke Pulau Komodo dan daerah Sape di Sumbawa timur, tahun 1846, merupakan tempat yang dipakai sebagai pangkalan oleh para bajak laut untuk menyerang desa-desa di pantai utara Sumba, dan menangkap penduduknya untuk dijadikan budak yang diperjual belikan.

Kebanyakan kapal-kapal bajak laut itu berasal dari Bugis dan Makasar. Bahkan dalam salah satu cerita legenda orang Komodo, para bajak laut diceritakan berasal dari negeri bajak laut, Butung (Buton) di Sulawesi tenggara.

Laporan-laporan pada abad ke-19 menyebutkan Pulau Komodo adalah tempat pembuangan orang-orang yang terlibat kejahatan. Mereka adalah orang-orang yang menjadi budak akibat hutang dan orang hukuman yang berada dibawah pengawasan wakil dari Kesultanan Bima.

Selain penduduk asli, Pulau Komodo juga didiami oleh orang-orang dari Sumba, Manggarai, Ambon, Kapu (dari Manggarai barat), Sape (Sumbawa timur), Bugis, Ende (Flores tengah) dan orang Welak (Flores barat). (Needham, 54).

Letak Pulau Komodo di Selat Sape, ternyata juga menjadi daerah rute pelayaran dan perdagangan dari daerah-daerah lain, terutama dengan daerah Ende, Flores dan Sumbawa.

Perahu dagang dan nelayan dari Ende bahkan menangkap ikan Hiu sampai ke perairan Pulau Komodo atau membeli hasil bumi dari penduduk seperti asam Jawa, gula enau dan tepung sagu.

Begitu juga dengan kedatangan perahu-perahu nelayan dan dagang Bugis yang menggunakan perahu patorani atau padewakang. Cerita kedatangan para pelaut Bugis ini juga terdapat dalam cerita rakyat di Komodo, tentang ata Gili Motang atau orang Gili Motang.

Dikisahkan dalam bahasa Komodo, yang sudah diterjemahkan:

Moyang kami datang dari tanah Bugis, pergi berlayar ke Gili Motang. Setibanya di Gili Motang, ia bertemu dengan orang Gili Motang, “Datang dari mana?” Dijawab oleh moyang kami, “dari (tanah) Bugis”. “bapak mau ke mana?”. “Bukan, kami berlayar ke sini saja”. Kata mereka,”kalau begitu bapak jangan berangkat, maunya menjadi kawan kami di sini”. Jawab moyang kami, “Baik”. Sesudah itu orang Gili Motang suruh (dia) membuat perahu, membuat perahu di Pulau Gili Motang. Maka moyang kami membuatnya. Sesudah ia selesai, diikatnya tali pada buritannya, ditambat pada pohon asam. Sesudah ia selesai, Tuanku Sangaji Mbojo (Bimapenulis) itu pesan kepada moyang kami untuk datang. Maka moyang kami pergi ke Mbojo. (Verheijen, 1987: 77)

Cerita rakyat tersebut menggambarkan kedatangan para pelaut Bugis yang dianggap sebagai nenek moyang orang Komodo, bahkan mereka menganggap tradisi pembuatan perahu di Pulau Komodo berasal dari orang-orang Bugis yang datang. (CBN)

Sumber:

J.A.J. Verheijen, Pulau Komodo: Tanah, Rakyat, dan Bahasanya. 

Comments: 0

Your email address will not be published. Required fields are marked with *