Sering Baca Berita Hoax di Masa Kampanye, Dapat Sebabkan Gangguan Kejiwaan

Melanesiahotnews, Jakarta – Musim kampanye pemilihan presiden dan legislatif yang dimulai sejak 23 September hingga 13 April dianggap beberapa politisi sebagai periode kampanye hitam mulai tersebar di media sosial.

Presidium dan pegiat Masyarakat Anti Fitnah Indonesia yang juga berprofesi sebagai Psikolog Klinis, Ratih Ibrahim, mengatakan sebaran berita fitnah dapat berdampak pada gangguan kejiwaan

“Dari pengalaman saya menangani pasien, pasien saya yang kemudian mengalami gangguan kejiwaan akibat informasi hoaks yang diterimanya itu ada, dan bukan satu-dua.

Pasien yang datang ke saya di usia SD, SMP, sampai usia yang jauh lebih senior dari itu,” kata Ratih saat berbicara dengan awak media di Kantor DPP PDI Perjuangan, Jakarta, Rabu.

Mereka, kata Ratih, datang dalam kondisi merasakan kegelisahan yang sangat besar, yang dalam ilmu kedokteran dikenal dengan sebutan anxiety disorder.

Dia menuturkan, kegelisahan itu sebagai gangguan kecemasan yang dialami secara intens, dan berlangsung lebih dari dua minggu.

“Mereka mengaku dihantui mimpi-mimpi buruk, ketakutan, menjadi paranoid, dan menjadi curiga terhadap orang-orang yang ada di sekitarnya. Yang paling parah ketika mereka menjadi takut bertemu orang lain,” sebut dia.

Selama menangani pasien dengan kasus tersebut, Ratih mengaku, kondisi seperti itu tak hanya di alami anak-anak yang tinggal di Jakarta, namun juga di kota-kota lain.

Dia bercerita, bahkan ada kasus anak yang merasa ketakutan karena berasal dari keluarga keturunan China.

“Ada juga yang fungsinya menjadi tidak optimal karena tidak berani kuliah, jadi enggak bisa keluar kamar. Yang kayak gitu kan kasihan. Belum lagi yang kemudian menjadi benci banget sama etnis tertentu atau agama tertentu,” tutur dia.

Ratih menegaskan, dampak gangguan seperti itu berasal dari membaca berita-berita fitnah, dan penuh ujaran kebencian. Dia pun menilai, kasus terparah terjadi ketika kondisi itu dialami oleh siswa Sekolah Dasar.

“Bayangkan saja, anak SD jadi takut sekolah, enggak bisa konsentrasi, tidur dia jadi gelisah. Dan ada juga gejala yang lain, seperti tidur ngompol. Itu karena terkontaminasi berita,” ujar Ratih.

Untuk menangani masalah tersebut, sebut dia, pasien harus mulai menjalani detoksifikasi dengan dijauhkan dari media sosial ataupun televisi.

“Mau enggak mau ya harus didetoks. Dengan engga menjalani hidup bersih dari racun-racun itu sendiri,” tutur dia.

Whatsapp, Platform Berbahaya Dalam Penyebaran Hoaks

Co-Founder dan Ketua Komite Fact Checker Mafindo, Aribowo Sasmito, di tempat yang sama menilai kontaminasi berita fitnah dapat dengan mudah tersebar melalui media Whatsapp.

“Whatsapp yang paling rentan. Kayak grup-grup keluarga begitu, itu sangat rentan. Cuma masalahnya itu platform tertutup dan terenskripsi,” ujar Aribowo kepada awak media.

Ari menyebut, penyebaran berita fitnah melalui media sosial pertama kali dirasakan pada musim kampanye Pilpres tahun 2014.

Kala itu, menurut dia, Facebook menjadi media yang popular yang paling banyak digunakan masyarakat.

Dia menambahkan, berita hoaks itu sangat mudah terdeteksi karena kontennya dipastikan dapat menyentil emosi pembaca.

“Ketika orang sudah tersentil emosinya enggak berpikir panjang, asal itu sesuai dengan seleranya, langsung disebar. Jadi memang tekniknya seperti itu, memancing orang untuk menyebarkan,” tukas dia.

Mafindo sebagai gerakan penyedia pemeriksaan fakta informasi berita pun mendapati bahwa masalah pencegahan penyebaran berita hoaks terbilang sulit.

Dia menyebut berita sanggahan yang berisi fakta kerap sulit mendapatkan sebaran yang sama dengan jumlah berita hoaks.

“Jadi misalnya hoaksnya disebar 1.000 kali, berita klarifikasi disebar 100 itu sudah Alhamdulillah,” kata dia.

 

Penulis : Megiza S.A

Editor   : VN

 

Comments: 0

Your email address will not be published. Required fields are marked with *