Potret Perempuan Asmat yang Tangguh

Anak-anak perempuan Asmat mulai memperoleh akses kepada pendidikan berkualitas di SD YPPK St. Don Bosco, Ewer, 8 September 2017. Perlu kolaborasi dan integrasi di semua sektor untuk memperhatikan anak-anak perempuan Asmat supaya bisa memperoleh layanan pendidikan, kesehatan dan ekonomi secara memadai. (Foto: Petrus Pit Supardi)

ASMAT memesona. Manusia Asmat ramah. Alamnya indah. Lekuk sungai dan hutan bakau memenuhi tanah lumpur Asmat. Di sungai keruh itu hidup udang dan ikan. Pada hamparan bakau terdapat kepiting. Manusia Asmat hidup berkelimpahan di atas tanah subur dan kaya.

Ketika melewati jalan-jalan protokol di Agats, atau ke kampung-kampung di luar Agats, kita akan menyaksikan mama-mama Asmat beraktivitas tanpa henti. Bukan hanya mama-mama, anak-anak perempuan Asmat pun tampak sibuk membantu orang mereka. Mereka bekerja tanpa lelah untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Di Asmat, mama-mama dan anak-anak perempuan rajin mencari ikan dan kepiting. Mereka pergi ke tepian laut Arafura. Di sana mereka mamasang jaring. Sebagian lainnya menebar pancing. Hasil tangkapan ikan dijual ke kota Agats.

Pada musim udang, mama-mama Asmat mencari udang menggunakan serok. Tampak anak-anak perempuan membantu para mama mencari udang. Mereka bisa mendapatkan udang sedang berember-ember. Udang-udang tersebut mereka jual di kota Agats.

Sore menjelang malam, mama-mama menjual ikan, udang dan kepiting di pasar, di kota Agats. Sebagian menjual hasil tangkapannya di pasar Mama-Mama di Jalan Muyu. Sebagian lainnya menjual di pasar ikan, yang bersebelahan dengan lapangan Yos Sudarso.

Mama-mama memperoleh uang ratusan ribu dalam sehari dari hasil berjualan ikan, udang dan kepiting. Dengan uang yang diperoleh, mama-mama membelanjakan kebutuhan rumah tangga: gula, kopi, beras, supermi. Tidak lupa selalu ada uang untuk beli pinang dan rokok.

Di Asmat, mama-mama makan pinang. Padahal tidak ada pohon pinang dan sirih di Asmat. Kalaupun ada pohon pinang dan sirih, buahnya terbatas. Tetapi, hampir semua mama-mama Asmat mengonsumsi pinang. Mama-mama mengonsumsi pinang kering. Bahkan tidak jarang kulit gambir pun dijadikan santapan pengganti pinang.

Kebiasaan mengonsumsi pinang memuluskan para pedagang mendatangkan pinang dari luar Asmat. Harga pinang kering per kilo gram mencapai ratusan ribu rupiah. Mama-mama biasa membeli pinang eceran. Harganya 5.000-10.000 per tumpuk.

Kebiasaan mengonsumsi pinang sebenarnya merugikan mama-mama Asmat. Dari sisi kesehatan, mama-mama bisa menderita sakit kanker mulut karena kapur yang dikonsumsi bersama sirih-pinang. Dari aspek ekonomi, mama-mama telah menghabiskan uang untuk membeli sirih-pinang.

Mama-mama bisa tidak makan seharian karena sudah “kenyang” dengan pinang.  Kita bisa melihat di Agats atau di kampung-kampung, mama-mama Asmat tampak kurus. Mereka bekerja keras tanpa diimbangi dengan makanan bergizi. Ditambah lagi perilaku suka mengonsumsi pinang membuat mama-mama kehilangan nafsu makan.

Pinang menjadi “bius” untuk mama-mama Asmat melupakan sejenak beban kerja yang ditanggung. Sejak bangun pagi, mama-mama sudah sibuk di dapur: mencuci piring, bakar sagu atau masak nasi, cuci pakaian. Lalu, mama-mama Asmat akan pergi ke dusun atau kebun untuk mencari makanan. Di sana, mereka juga mencari kayu bakar.

Pada sore hari, mama-mama akan kembali ke rumah. Di rumah, mama-mama Asmat mulai memasang api dan memasak makanan untuk keluarga. Rutinitas ini dijalani oleh mama-mama Asmat setiap hari tanpa mengenal lelah.

Mama-mama Asmat melaksanakan peran ganda, mengandung, melahirkan, menyusui dan merawat anak-anak. Mereka juga mengerjakan segala hal yang berkaitan dengan keberlangsungan hidup keluarga. Mereka mencari makanan di dusun dan menyiapkannya di dapur.

Mama-mama mengambil peran besar di dalam kehidupan keluarga. Kesibukan bekerja, seringkali membuat mama-mama “lupa” merawat anak-anak yang telah susah payah dilahirkannya. Kita menyaksikan banyak anak Asmat tidak bersekolah. Anak-anak itu telah terabaikan karena kesibukan sang mama. Anak-anak kehilangan masa depannya.

Bagi orang dari luar Asmat, pekerjaan yang diemban mama-mama Asmat tampak “menyiksa” mama-mama. Tetapi, mama-mama Asmat menganggapnya biasa. Mereka menerima sebagai tugas dan tanggung jawab di dalam kehidupan keluarga dan sosial.

Mama-mama Asmat memberikan gambaran betapa perempuan memiliki peran strategis di dalam keberlangsungan kehidupan suatu keluarga Asmat. Mama Asmat melakukan sebagian besar pekerjaan rumah tangga. Dengan peran yang diemban itu, mama Asmat bisa menjadi agen perubahan dan perbaikan tatanan sosial kehidupan orang Asmat.

Mengingat mama-mama Asmat memegang peran sentral di dalam kehidupan keluarga, maka program pembangunan di Asmat, baik yang dilaksanakan oleh pemerintah dan Gereja perlu melibatkan mama-mama Asmat. Keterlibatan mama-mama Asmat, bukan sebagai pelengkap, tetapi harus menjadi bagian utuh dari program pembangunan Asmat di masa depan.

Selama ini, mama-mama Asmat sekedar terlibat sebagai mama-mama PKK, WKRI, kelompok kerja kebun dan lain sebagainya. Mama-mama Asmat belum terlibat secara utuh di dalam proses perencanaan dan pembangunan Asmat.

Pikiran dan refleksi mama-mama Asmat tentang masa depan Asmat belum tampak di dalam setiap pengambilan kebijakan untuk pembangunan Asmat. Mama-mama Asmat masih terlupakan.

Kisah paling tragis dialami mama-mama Asmat yaitu ketika mereka harus memangku jasad darah daging mereka akibat campak dan gizi buruk. Pada bulan Desember 2017 sampai Januari 2018, Asmat dihebohkan dengan kasus gizi buruk dan campak.

Tercatat tujuh puluh dua anak mati akibat penyakit campak dan gizi buruk. Suatu kematian yang sebenarnya tidak perlu terjadi karena Asmat kaya sumber daya alam. Ironisnya, anak-anak Asmat mati di atas kekayaan alam yang melimpah itu.

Mama-mama Asmat melahirkan anak-anak dalam rentang waktu yang singkat. Seringkali, seorang anak baru berumur enam bulan, sang mama sudah hamil lagi. Jarak kelahiran yang tidak teratur menjadi pemicu penderitaan mama dan anak-anaknya. Sekali lagi, mama-mama Asmat menanggung semua penderitaan ini. Mama mana yang tega menyaksikan buah rahimnya terkulai tak bernyawa di dalam pangkuannya?

Di dalam ketidakberdayaan, mama-mama Asmat masih tetap berjuang mempertahankan kehidupan keluarganya. Dalam suasana duka sekalipun, asap di dapur harus mengepul, maka mama-mama harus lekas melepaskan masa kabung. Mereka harus ke dusun untuk mencari makanan.

Kisah hidup mama-mama Asmat tampak kurang adil. Tetapi, mama-mama Asmat telah mewarisinya turun-temurun sehingga tampak biasa saja. Mama-mama Asmat menjadi terbiasa dengan beban kerja yang berat dan menganggapnya sebagai tugas dan tanggung jawabnya.

Mama-mama Asmat menerima setiap pekerjaan tanpa beban. Sebab, di pundak mereka ada masa depan Asmat. Mereka harus bekerja tanpa mengeluh demi anak-anak yang mereka lahirkan dan demi generasi Asmat di masa depan.

Siapa bertanggung jawab terhadap kondisi mama-mama Asmat yang terlampau berat menanggung beban kerja di dalam keluarga? Bagaimana cara memutus mata rantai penderitaan mama-mama Asmat akibat beban kerja yang berat?

Pertama, orang Asmat masih memegang erat adat dan budaya. Perempuan tidak sembarang hadir di dalam Jew dan terlibat di dalam pembicaraan tentang masa depan fam dan lain sejenisnya. Laki-laki mengambil seluruh peran di dalam Jew. Laki-laki memutuskan segalanya. Perempuan mengambil bagian dalam pekerjaan yang telah diputuskan kaum laki-laki di dalam Jew.

Mengingat peran perempuan dalam kehidupan orang Asmat sangat vital, maka perlu penegakkan perlindungan terhadap perempuan Asmat berdasarkan nilai-nilai adat yang telah diwariskan turun-temurun. Artinya, nilai-nilai dasar penghormatan terhadap perempuan yang dihayati orang Asmat perlu ditegakkan sehingga perempuan Asmat lebih terlindungi.

Kedua, Gereja perlu merangkul dan melibatkan perempuan di dalam kehidupan menggereja. Perempuan-perempuan perlu dilatih menjadi ketua lingkungan, memimpin kor, memimpin doa lingkungan, doa Rosario, ibadah duka dan lain-lain.

Dengan demikian, timbul rasa percaya diri di dalam diri perempuan Asmat. Mereka berani tampil dan menyuarakan program yang berpihak pada kebutuhan perempuan.

Ketiga, pemerintah daerah Kabupaten Asmat dan Dewan Perwakilan Daerah (DPRD) Kabupaten Asmat perlu mengeluarkan peranturan khusus untuk melindungan anak-anak perempuan Asmat dan mewajibkan mereka untuk bersekolah.

Sebab, sebagian besar anak perempuan Asmat tidak bersekolah. Mereka lekas dikawinkan oleh orang tua menjelang masa akil balik. Kondisi semacam ini sangat merugikan kehidupan dan masa depan perempuan Asmat.

Potret perempuan Asmat merupakan kisah penderitaan manusia. Bahwa pada masa ini, ketika dunia memasuki erat teknologi transportasi dan komunikasi yang mutakhir, di belahan dunia yang bernama Asmat, perempuan masih menanggung beban hidup yang berat.

Siapa peduli pada perempuan Asmat? Siapa akan menolong meringankan beban hidup mereka? Perempuan Asmat sendiri yang harus bangkit dan memperjuangkan nasibnya. (CBN)

(Rumah Komisi Kateketik Keuskupan Agats, 15 April 2018; pukul 12.45 WP_Petrus Pit Supardi)

Tulisan ini sudah dimuat di Kompasiana edisi 5 Juni 2018

Comments: 0

Your email address will not be published. Required fields are marked with *