Buaya Terkam Petugas Laboratorium di Minahasa

Melanesiahotnews.com – Buaya adalah salah satu hewan buas yang kehadirannya di sekitar permukiman membuat resah masyarakat. Meski demikian beberapa orang justru menjadikan hewan buas itu sebagai peliharaan. Padahal dengan memelihara hewan itu tentu memiliki risiko besar yang mengancam nyawa orang.

Beberapa waktu sempat heboh dengan ditemukannya jasad perempuan di sebuah kandang penangkaran buaya. Wanita itu diketahui bernama Deasy Tuwo, Kepala Laboratorium CV Yosiki yang berada di Desa Ranowangko, Kecamatan Tombariri, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

Wanita berusia 44 tahun itu tewas diterkam buaya milik bosnya, Jumat lalu (11/1). Diduga wanita itu terpeleset ke dalam saat memberi makan buaya peliharaan bosnya.

Berikut 5 fakta terkait kasus Deasy Tuwo, petugas laboratorium yang tewas diterkam buaya di Minahasa.

1. Ditemukan Pertama Kali oleh Rekan Kerjanya

Deasy Tuwo saat berada di kolam penangkaran Buaya. (Foto: Facebook/Kenly)

Jasad Deasy Tuwo pertama kali ditemukan oleh Erling Rumengan (37 tahun), warga Desa Ranowangko yang sekaligus rekan sekerja korban. Erling menceritakan bahwa dirinya bersama rekannya telah mencari keberadaan Deasy Tuwo sejak pagi.

Mereka telah mengecek dan menyisir CV Yosiki, perusahaan pembibitan mutiara milik warga berkebangsaan Jepang.

Hingga akhirnya mereka melihat sesuatu yang mengapung di air kolam tempat pemeliharaan seekor baya milik bos perusahaan itu. Erling bersama rekannya diliputi rasa penasaran dan kecurigaan lantaran benda mengapung itu layaknya tubuh manusia.

Lantaran takut, mereka kemudian melaporkan apa yang dilihatnya itu ke Polsek Tombariri. Setelah polisi datang dan mengecek, ternyata benar jasad Deasy Tuwo.

2. Kondisi Jasad Korban Mengenaskan

(Foto: Facebook/Kenly)

Kondisi jasad Deasy Tuwo yang tewas diterkam buaya itu sangat mengenaskan. Maikel Makodompit, pemandi jenazah di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Kandou yang sekaligus salah satu dari tiga pemandi jenazah Deasy Tuwo menceritakan bahwa kondisi tubuh korban sangat mengenaskan.

Ia juga menggambarkan bahwa sebagian tubuh korban telah raib. Tangan serta isi perut korban telah dilahap buaya yang menyebabkan nyawa wanita cantik itu melayang.

3. Banyak Warga Datang ke Lokasi Kejadian

Proses evakuasi jasad Deasy Tuwo dari dalam kolam Buaya. (Foto: Facebook/Kenly)

Pasca-ditemukannya jasad Deasy Tuwo yang tewas akibat dimangsa seekor buaya, warga sekitar ramai mendatangi lokasi kejadian. Bahkan muncul isu bahwa warga setempat marah dengan kasus tewasnya Deasy Tuwo yang dimangsa buaya. Mereka dikabarkan hendak beramai-ramai membunuh buaya itu.

Di lokasi kejadian mereka sangat antusias mengamati pergerakan seekor buaya berukuran sepanjang lima meter itu. Sejumlah warga juga sempat melemparkan batu ke arah buaya sehingga beberapa kali buaya itu meronta dan membuka mulut.

Mereka melempari hewan buas itu dari bagian luar kompleks lokasi kejadian, lantaran telah dipasang garis polisi.

4. BKSDA Sulawesi Utara akan Evakuasi Buaya

(Foto: Facebook/Kenly)

Pasca-kejadian itu, tim penyelamat dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara bergerak cepat dengan menurunkan tim ke lokasi pemeliharaan buaya itu. Hanya saja lantaran keterbatasan personel dan besarnya ukuran buaya, mereka belum bisa mengevakuasi reptil yang masuk ke dalam spesies Crocodylidae itu.

Senin (14/1) hewan itu akhirnya dievakuasi ke Pusat Penyelamatan Satwa Tasikoki di Bitung. Lantaran beratnya mencapai 600 kg, sedikitnya 20 orang diturunkan dalam pengevakuasian. Mereka terdiri dari tim BKSDA Sulawesi Utara, TNI-Polri, Pemerintah Daerah, dan dibantu oleh beberapa warga setempat.

5. Polisi Masih Mencari Pemilik Buaya

(Foto: Facebook/Kenly)

Kapolres Tomohon AKBP Raswin B. Sirait mengatakan bahwa pihaknya hingga kini masih mencari pemilik buaya sepanjang lima meter itu. Diketahui Mr. Ochiai, pemilik buaya tidak berada di lokasi kejadian saat buaya berusia 30 tahun memangsa Deasy Tuwo hingga tewas. Tidak hanya memelihara buaya, CV Yosiki juga memelihara ikan arwana serta pembibitan mutiara. (CBN)

 

Comments: 0

Your email address will not be published. Required fields are marked with *